Sejarah Jatuh Bangun Musik Band Emo di Indonesia

band emo

Syllaka – Sebuah suara merusak kesunyian saat Killing Me Inside Band emo sedang bersiap-sedia untuk memainkan sebuah tembang unggulan From First To Last, Ride The Wings of Pestilence.

Dalam video yang diupload di YouTube pada 12 Februari 2007 itu, terlihat Sansan (vokal), Josaphat (gitar), Onad (bas), Rendy (drum), ditolong oleh Dochi (additional gitar) tampil all out, dalam suatu gig yang digelar di News Kafe Kemang.

Tanpa batas, di antara band dengan pemirsa membaur menjadi satu dalam gig yang intim itu.

Deskripsi situasi gig di atas ialah cuma salah satunya contoh dari beberapa gig yang banyak diadakan di Jakarta dan sekelilingnya pada waktu itu.

Seterusnya, virus emo secara cepat menebar, selainnya musik, emo menyebar sebagai mode pernyataan anak muda saat itu.

Berlalu lebih dari delapan tahun selanjutnya, persisnya pada, Jumat, 30 Oktober 2015, gig memiliki konsep sama kembali digelar di Rossi Fatmawati, Jakarta Selatan.

Waktu itu, di atas pentas dengan tinggi tidak lebih dari 1/2 mtr., ada Sansan (vokal), Josaphat (gitar), Rudye (Keyboard), Angga Tetsuya (Bas), Dochi (gitar), dan Davi (drum) kembali mainkan sebuah tembang emo legendaris dari Saosin, Seven Years.

“Walau sebenarnya belum latihan, tuch, yang Seven Years, langsung bantai saja, hehehe…,” kata Dochi sesudah turun pentas.

Masa lalu ini ingin tidak mau menyodok saat HAI menyaksikan poster sebuah acara yang sempat berjalan di Borneo Beerhouse, Kemang, pada 23 September 2017 yang mendatangkan beberapa pion scene emo di Jakarta.

Arck, Too Late To Notice, Side Proyek, dan Seems Like Yesterday akan manggung bersama pada acara yang dinamakan Party Like It’s 2008.

Yup, di Indonesia, emo tumbuh pada range 2003-2006 dan jadi membesar sesudahnya. Tidak bingung bila 2008 dipandang seperti peristiwa pucuk yang paling diingat.

Kembali lagi ke gig pada tahun 2015 yang namanya Risorgimento itu. Di situ beberapa “alumni” KILLMS kembali bergabung bersama-sama dan rasakan atmosfir gig di zaman tengah 2000-an, saat pandemi emo tengah menerpa di seantero Ibu Kota, dan menyebar ke sejumlah kota yang lain di Indonesia.

Saat sebelum KILLMS dikenali beberapa orang, masih di zaman itu, beberapa nama seperti Killed By Butterfly, Seems Like Yesterday, The Side Proyek, Jakarta Flames, Sweet As Revenge sudah dikenali.

Menurut Aldy, gitaris sekalian frontman Seems Like Yesterday, geliat band-band emo di luar kota selainnya Jakarta lumayan tinggi, ada beberapa nama The Astronauts dan End of Julia dari Yogyakarta, dan dari Bandung ada Alone at last, Love Hate Love, sampai Jolly Jumper.

“Dahulu, cocok saya awalnya nge-band, tidak ada scene emo. Band emo juga masing-masing mainnya pada acara melodic atau gig kombinasi hardcore/ metal. Acara pertama kali yang ada emo-emonya itu sepertinya We No Need No Emo 1, di Rogue, Kemang, Jakarta Selatan. Sekitaran 2003 atau 2004-an getho,” kata Aldy.

Seterusnya, perubahan emo di Indonesia makin masif. Bermacam gig yang diisi band-band emo makin bertambah.

Hal ini cukup dikuasai oleh band-band yang sedang disukai di Barat sana. Dimulai dari Finch, Saosin, A Static lullaby, The Used, Underoath, Matchbook Romance, sampai yang mainstream seperti My chemical Romance memiliki fansnya sendiri.

Sempat Dicegat Pergerakan Antimo (Anti-emo)

Cepat mengembangnya emo waktu itu, sebanding lempeng juga sama yang tidak sukai sama mereka.

Selalu kelihatan modis dengan poni iris tepi dengan rapi jadi penampilan anak emo waktu itu.

Untuk ukuran musik yang datang dari skena underground, Emo dipandang jadi demikian “banci” karena umumnya rias. Dari skena yang serupa tetapi berlainan jenis, anak-anak Emo mulai dites moralnya.

“Ah, band angin-anginan, paling bertahan 2 tahun saja. Band apa ini, tidak ada skillnya, paling sulit maju! Ada pula kaya anak street punk getho, acungin jemari tengah cocok kami kembali manggung, tetapi turut menyanyi, hafal liriknya, Ya seperti tersebut, hahaha…,” kata Athink, hal sindiran yang tiba saat awalnya terciptanya Alone At Last.

Leave a Reply

Your email address will not be published.